Selasa, 14 Oktober 2008

Pertemuan ke-8 Ujian Tengah Semester

Sesuai dengan kesepakatan kita, maka:
  1. Batas Terakhir tanggal 22 Oktober 2008, pukul 12.00 setiap kelompok harus menerbitkan blogger yang berisi proposal ringkas penelitian. Daftar alamat blogger harus diserahkan pada Pembina MK (FX Sri Sadewo) paling lambat tanggal 21 Oktober 2008;
  2. Tanggal 1 Nopember 2008, masing-masing kelompok menyerahkan catatan lapangan dan laporan sementara dari penelitiannya ke FX Sri Sadewo, dan menampilkan dalam bloggernya;
  3. Tanggal 1-7 Nopember 2008 dua kelompok yang menjadi pembahas memberikan komentar atas temuan awal. Kelompok penyaji memberikan tanggapan. Masing-masing dilakukan secara individual;
  4. 14 Nopember 2008 masing-masing kelompok menyerahkan laporan akhir pada FX Sri Sadewo dan menampilkan dalam blogger.
  5. 15-25 Nopember 2008 kelompok pembahas memberikan komentar dan kelompok penyaji memberikan penilaian. Masing-masing dilakukan secara individual;
  6. Tanggal 26 Nopember 2008 masing-masing kelompok pembahas menyerahkan penilaian atas tanggapan dari kelompok penyaji. Kelompok penyaji memberikan penilaian atas komentar dari kelompok pembahas.
Nilai UTS merupakan gabungan dari penilaian kelompok pembahas (50%) + kelompok penyaji (30%) dan dosen (20%).

Setiap keterlambatan dari jadwal ini akan memperoleh sanksi, pengurangan point 10% per hari untuk anggota kelompok dan 15% untuk ketua kelompok.

Selamat Bekerja.

Selasa, 07 Oktober 2008

Pertemuan ke-7 Pandangan Gidden terhadap Gerakan Sosial

Anthony Gidden yang berasal dari keluarga kelas menengah, anak dari seorang Clerk di Inggris ini lebih banyak dipengaruhi oleh Talcott Parson dan Weber pada awalnya. Hal itu terjadi karena pertemuannya dengan Norbert Ellias, kemudian ia menjelajahi pemikiran Weber, Durkheim dan Marx tatkala mencoba memahami hubungan antara kapitalisme dan kehidupan sosial. Hal itu bisa anda baca di Wikipedia. Dalam teori strukturasi, ia menghubungkan antara mikro dan makro, diawali dengan pertukaran kemudian dihubungkan dengan kondisi-kondisi obyektif (struktur makro). Individu bergerak dari aktor ke agent, tidak saja mereproduksi perilaku yang telah ditetapkan oleh struktur makro, tetapi juga dapat memproduksi perilaku baru. Kapan hal itu terjadi tergantung dari kemampuan self monitoring dari individu, time, space dan power.
Ketika menjelaskan gerakan sosial, ia menghubungkan antara unsur-unsur dalam sistem kapitalisme dan varian gerakan sosial. Gerakan sosial terkait dengan unsur-unsur dalam sistem kapitalisme, yaitu: kapitalisme, industrialisasi, kekuatan militer dan pengaturan subyek di wilayah politik (surveilance). Gerakan sosial sebagai respon dari keempat unsur ini.
Dalam bukunya Third Ways, ia menyarankan bagaimana mengambil langkah tengah, sistem kapitalisme harus bergerak dengan memikirkan kesejahteraan bersama, demikian pula gerakan sosial tidak perlu membuat dikotomi kapitalisme-sosialisme dan melakukan gerakan destruktif. Masyarakat diberi ruang untuk penguatan kepentingannya. Tentang Third Way dari Anthony Gidden dapat dibaca dari ulasan Paul Cammack.
Di era globalisasi, gerakan sosial ini tidak lagi terfokus pada satu wilayah atau negara tertentu, tetapi telah berkembang menjadi satu jejaring global. Hal itu terjadi sebagai respon dari perkembangan kapitalisme global. Struktur kapitalisme sekarang tidak lagi bersifat lokal, tetapi mengglobal, baik melalui jaring investasi global, atau hanya menggunakan MNC (Multi National Cooperation). Jejaring itu tidak saja bersifat institusi global, seperti WTO, World Bank dan IMF, tetapi juga bergerak secara individu dengan investasi global yang bernilai bermilyard dollar. Bagaimana perkembangan gerakan sosial dan sistem kapitalisme di Inggris dapat dibaca pada tulisan Dobrowolsky, sementara bagaimana gerakan sosial di arena globalisasi dapat dibaca pada tulisan Frederick H. Buttel dan Kenneth A. Gould, penggunaan internet dalam gerakan sosial dapat dibaca pada tulisan Bolette M. Christensen dan Mario Diani.

Senin, 06 Oktober 2008

Pertemuan ke-6 Gerakan Sosial dalam Perspektif Pertukaran


Sebenarnya sangat sederhana sekali memahami perspektif ini. Sama halnya gejala alam, sesuatu itu adalah proses aksi dan reaksi. Bila ada aksi, maka ada reaksi. Begitu pula dengan gerakan sosial, kondisi-kondisi di luar individu dan komunitas yang dirasakan sama akan menimbulkan reaksi dengan membentuk gerakan sosial. Namun demikian, kondisi-kondisi itu tidak serta merta menghasilkan gerakan sosial. Ketidaksetaraan, ketidakadilan dan masalah-masalah sosial itu harus diperpektifkan secara sama oleh individu dan masyarakat. Bila tidak, maka tidak terjadi gerakan sosial. Demikian pula, kondisi-kondisi yang mendukung atau menolak terjadinya reaksi harus pula diperspektifkan secara sama pula. 

Persoalan tidak semudah itu. Oleh karena itu, Eric Hoffer (1988) menunjukkan bahwa gerakan sosial itu harus ditunjang oleh (1) kelompok tersingkir dari kehidupan, antara lain kaum miskin (orang miskin baru, orang hina papa, orang miskin merdeka, orang miskin yang kreatif dan orang miskin yang bersatu), (2) orang canggung, (3) orang yang mementingkan diri sendiri, (4) orang yang berambisi, (5) kelompok minoritas, (6) orang bosan, dan (7) orang berdosa yang akan melakukan sebagai bagian dari penebusan atas dosanya. Hal itu kemudian ditambah dengan unsur pengorbanan diri dan unsur pemersatu. Hal itu tidak cukup bila tidak ada manusia bijak, manusia fanatik dan manusia bertindak. Gerakan sosial dipelopori oleh manusia bijak, diwujudkan oleh manusia fanatik dan dipersatukan oleh manusia bertindak. Manusia bijak akan memberikan pengetahuan yang menjadi dasar ideologi suatu gerakan, manusia fanatik meyakini dan melaksanakan ideologi dan manusia bertindak menghimpun dan mengarahkan gerakan sosial. 

Untuk kasus perjuangan kemerdekaan di Indonesia, coba perhatikan peranan masing-masing tokoh ini, mulai dari HOS Cokroaminoto, Tan Malaka, Sukarno, Muhamad Hatta, hingga Bung Tomo di Surabaya, dan seterusnya!

Selasa, 30 September 2008

Pertemuan ke-5 Gerakan Sosial dalam Perspektif Weberian

Penelitian Sartono Kartodirdjo tentang Pemberontakan Petani di Banten merupakan penelitian khas yang menggunakan perspektif Weberian. Dalam penelitiannya, memang diakui ada kondisi-kondisi obyektif dalam gerakan sosial. Penerapan sistem pajak misalnya berpengaruh pada kerawanan dalam masyarakat. Namun, menjadi menarik adalah proses dalam gerakan sosial itu. Gerakan sosial itu tidak berakar pada persoalan kerawanan sosial, tetapi pada aspek asketik. Kondisi obyektif yang tidak menguntungkan menimbulkan harapan-harapan akan kondisi yang baru yang lebih baik. Kondisi yang diharapkan itu tidak bercermin pada masa yang akan datang, tetapi bercermin pada masa lalu, nilai-nilai masa lalu. Demikian pula, tokoh lahir bukan sekedar untuk membentuk kesadaran kolektif dari kelas atau kelompok masyarakat yang tidak diuntungkan dalam struktur yang rawan itu, tetapi sebagai penghubung antara dunia yang adikodrati yang mengamini perubahan yang diharapkan. Ia adalah ratu adil yang memiliki nilai-nilai prophetic (kenabian). Ia menghubungkan jagad gedhe (makro-kosmos) dan jagad cilik (mikro-kosmos). Proses ini tidak terlepas dari rasionalitas yang berkembang di dalam masyarakat, yaitu rasionalitas nilai.
Contoh lain adalah pemberontakan petani Zapatista di Meksiko yang berlangsung hingga sekarang. Pemberontakan ini bukan sekedar menuntut keadilan dalam proses produksi antara buruh dan tuan tanah, tetapi merupakan ritualitas masyarakat petani Meksiko, sebagai tradisi. Demikian pula, pada gerakan mahasiswa yang sering kita tidak melihat arah yang jelas pada masa-masa akhir ini. Hal itu tidak terjadi sebagai kepedulian petit burguise terhadap kondisi masyarakat, tetapi bila ditelusuri sering lebih merupakan tradisi yang ditanam dari generasi ke generasi tentang mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change). Yang muncul kemudian kata ..... pokoke demo.....

Rabu, 24 September 2008

Pertemuan ke-4 Gerakan Sosial dalam Perspektif Marxian



Perspektif ini mencermati gerakan sosial sangat jelas dan deterministik. Hal itu tidak bisa dilepaskan bagaimana cara pandang Karl Marx terhadap Masyarakat. Masyarakat tidak dianggap sebagai satu kesatuan yang utuh, tetapi terbelah dalam dua kelas besar, yaitu kelas pemilik alat dan sarana produksi atau dikenal dengan bourguise (borjuis) dan kelas pekerja dalam suatu mode produksi. Menurut Marx, relasi dua kelas ini bukanlah relasi yang setara, tetapi relasi eksploitasi dan penundukkan. Akibatnya, ada kesadaran palsu pada kelas pekerja, dan seterusnya. Hal itu bisa dibaca secara singkat dalam materi kuliah Frank Elwell dan Bolender. Gerakan sosial diawali dengan memberikan kesadaran pada kelompok pekerja, kemudian membangun gerakan bersama untuk menata kembali ketidakseimbangan dalam mode produksi.
Tulisan tentang Karl Marx dan Pemikirannya juga dapat didownload dari artikel FX Sri Sadewo di gersos-unesa@yahoogroups.com

Pertemuan ke-3 Gerakan Sosial dalam Perspektif Struktural Fungsional


Gerakan sosial sebagai respon masyarakat atau sekelompok masyarakat terhadap kondisi obyektifnya ini bervarian. Ada gerakan sosial yang tampil sebagai gerakan sosial yang menghendaki perubahan perilaku di tingkat individual pada sebagian dan keselurhan aspeknya. Seperti: Gerakan anti Suap, Gerakan anti Narkoba dan lain-lain.
Namun demikian, ada pula gerakan yang menghendaki perubahan di tingkat masyarakat baik secara sebagian atau keseluruhan. Gerakan reformasi tahun 1998 merupakan gerakan yang melakukan yang dilakukan terhadap masyarakat pada sebagian aspek saja, yaitu arena politik.
Atau, gerakan tranformative atau pada tingkat paling ekstrim adalah gerakan revolusi yang menyertakan seluruh anggota masyarakat dan menghendaki perubahan secara menyeluruh.
Secara teoritik, para sosiolog mencermati fenomena ini dari berbagai aliran. Penganut aliran struktural fungsional menjelaskan fenomena gerakan sosial dalam rangkaian proses adaptasi sistem (masyarakat) terhadap kondisi lingkungan (environment) yang berubah. Perubahan ini mengakibatkan kondisi yang disebut oleh Durkheim sebagai anomitas. Gerakan sosial sebagai usaha untuk mengatasi ketidakpastian dari perubahan. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Talcott Parson (Yui, 2004), sekaligus refleksi transendetal manusia atas perubahan yang terjadi.
Persoalannya, pandangan yang terlalu mudah ini memberikan pengakuan bahwa gejala gerakan sosial merupakan yang serba hadir di setiap perubahan di dalam masyarakat, meskipun tidak melihat secara lebih teliti di balik fenomena ini.

Jumat, 05 September 2008

Pertemuan ke-2 Apakah itu Gerakan Sosial?



Kita sudah tahu tentang gerakan sosial (lihat pertemuan ke-1). Pertama, gerakan sosial sebagai tindakan kolektif, awalnya selau dikaitkan dengan tindakan kerusuhan dan revolusi sosial. Setiap ada kerusuhan, orang selalu berpikir bahwa ada gerakan sosial yang melawan sesuatu yang sudah mapan. Sesuatu yang mapan ini dinilai tidak menguntungkan bagi masyarakat atau sekelompok atau bagian dari masyarakat. Tidak demikian, dalam gerakan sosial itu kerusuhan merupakan puncak dari gunung es (iceberg) di permukaan laut. Sebagian besar rangkaian dari peristiwa itu tidak terungkap atau nampak kasat mata dan dibaca oleh khalayak.
Kedua, gerakan sosial pada tahun 1970-an ke bawah, selalu dilihat dalam satu aspek, yaitu bergelut dalam sistem produksi (ekonomi) masyarakat, seperti: gerakan petani, gerakan buruh atau gerakan agama yang ujung-ujungnya dikaitkan dengan perubahan ekonomi. Bila meminjam pemikiran struktural fungsional, seperti Parsonian, maka sistem ekonomi merupakan bagian terluar dari inti masyarakat. Sistem ekonomi merupakan instrumen atau komponen dalam masyarakat yang digunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan (environment). Oleh karena itu, perubahan sistem ekonomi sebagai proses adaptasi terhadap lingkungan, akan memberikan riak atau goncangan pada masyarakat. Oleh karena itu, gerakan sosial sangat dimungkinkan untuk memperbaiki atau menyeleraskan masyarakat terhadap perubahan sosial. Lihat juga dalam Teori-teori Gerakan Sosial